BURUH PABRIK

Berawal dari pembicaraan ringan tentang pengalaman kerja salah satu buruh pabrik, ada seorang buruh pabrik yang sudah lama mengabdi pada salah satu perusahaan dikawasan industri pulogadung.

Lebih dari 12 tahun ia mengabdi pada perusahaan tersebut dan lebih dari 12 tahun pula ia berkarya dan memajukan perusahaannya, tak pernah ia bayangkan kalau ia akan selamanya menjadi buruh pabrik dengan bayaran Rp.50 ribu/hari.

Memang ia tak memiliki ijazah SLTA, SLTP pun ia tak punyadan ia hanya memiliki ijazah SD. Ia menceritakan tentang peerjaannya yang ia tekuni dan ia cintai. Tak pernah ia mengeluh sedikitpun saat ia bekerja, ia selalu bersungguh-sungguh pada target produksi yang harus ia selesaikan tiap hari.

Setiap pengangkatan karyawan ia selalu tidak lolos alias tidak bisa jadi karyawan tetap atau lebih kasar lagi tetep jadi BURUH PABRIK, katanya ijasah sangat mempengaruhi dalam penerimaan karyawan dan bukan etos kerja yang dinilai oleh atasannya.

Ia pun melepaskan keluhannya pada perbincangan kami berdua disela-sela istirahat siang “saya sangat kesal, apabila setiap penerimaan karyawan atau pengangkatan. Kenapa orang yang sudah lama bekerja selalu dinomor duakan, padahal orang-orang yang sudah lama bekerja mampu bersaing dengan pekerja-pekerja yang baru dan saya berani diadu mengenai pekerjaan yang akan diberikan” keluh sang buruh sambil mengumpat kata-kata kekesalannya.

Aku hanya bisa tersenyum sambil mendengarkan ia bercerita dengan lantang tentang jerih payah dia yang ikut andil dalam membesarkan perusahaan tersebut lebih dari 12 tahun ia mengabdi, aku hanya bisa termenung dan miris mendengarkannya serta sambil membayangkan jikalau aku sebagai dia, apakah aku akan kuat menjalaninnya?

Ia pun menceritakan tentang bonus tahunanyang selalu ia terima pada bulan juni tiap tahunnya, namun tahun ini ia belum menerima sepeserpun uang bonus tahunan dan sekarang sudah masuk pertengahan  bulan agustus.

Ia pun menceritakan tentang tempat ia kerja yang dulu managementnya dipimpin oleh orang asing “Kalau dulu, kami selalu diberi susu kental kaleng tiap bulannya walaupun cuma 2 kaleng dalam sebulan. Serta Medical CheckUp tahunan dan biaya kesehatan selalu ada, walaupun saya hanya seorang buruh pabrik. Saya bangga dengan adanya perhatian tersebut, semenjak dipegang oleh orang negeri sendiri malah nasib kami (buruh pabrik) seperti sapi perahan. boro-boro adanya Medical CheckUp tahunan, uang berobatpun tidak pernah diganti dan susu tiap bulan kami dapat kini sudah tak ada dan alasannya kami (buruh pabrik) bukan karyawan tetap perusahaan tersebut. sampai-sampai uang bonus tahunan belum kami terima sepeserpun padahal karyawan tetap sudah pada terima uang bonus tahunan tersebut, mungkin sudah habis” keluhnya padaku.

Ia pun mulai ketar-ketir dengan semakin dekatnya hari raya idul fitri, iapun mulai berprasangka buruk pada pimpinan perusahaannya “jangan-jangan THR pun kami tak dapat” keluhnya sambil menarik nafas panjang dan sambil menatap langit yang masih biru.

Aku hanya bisa diam dan coba merasakan getirnya apa yang ia rasakan “memang tak enak jadi buruh, apalagi pendidikan saya hanya lulusan SD” keluhnya.

Pahit memang yang ia ceritakan apalagi ia menceritakan tentang kehidupan keluarganya sehari-hari, saya hanya bisa mengelus punggungnya yang dibalut werpak kerja yang disinggahi keringat.

Saya hanya bisa berfikir kapankah para buruh-buruh ini layak mendapatkan upah yang layak?……

Jakarta, 20 agustus 2010

jum’at, 19.19 wib

One response to this post.

  1. ayo cuti mudik …

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.